POPULIS WARTA

Suara Masyarakat, Inspirasi Perubahan

Edisi Digital Regional
inovasi daerah

KEPITING SUKORAME, Kolaborasi Lintas Sektor Tekan Stunting hingga Tingkat Desa

Oleh Administrator 14 August 2026
KEPITING SUKORAME, Kolaborasi Lintas Sektor Tekan Stunting hingga Tingkat Desa

KEPITING SUKORAME, Kolaborasi Lintas Sektor Tekan Stunting hingga Tingkat Desa (Foto: Program KEPITING SUKORAME mengintegrasikan pembentukan tim stunting, kader Jupanting, pendataan balita, pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, sanitasi, dan imunisasi. Foto: Puskesmas Sukorame Kabupaten Lamongan.)

Stunting menjadi salah satu persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan karena berkaitan dengan pertumbuha...

Stunting menjadi salah satu persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan karena berkaitan dengan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia. Di Kecamatan Sukorame, persoalan tersebut mendorong Puskesmas Sukorame membangun pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada layanan kesehatan, tetapi juga melibatkan pemerintah kecamatan, desa, dan berbagai sektor lainnya. Dari kebutuhan itu lahir KEPITING SUKORAME atau Kelompok Peduli Stunting Sukorame sebagai program kolaboratif untuk mempercepat penurunan stunting. Inovasi ini menempatkan pencegahan, pendataan, edukasi, intervensi gizi, dan pemantauan sebagai bagian dari satu rangkaian pelayanan. Pedoman teknis KEPITING SUKORAME mencatat bahwa Kecamatan Sukorame pernah masuk dalam 10 kecamatan dengan prevalensi stunting tinggi di Kabupaten Lamongan. Pada Agustus 2018, prevalensi stunting di Sukorame mencapai 25,20 persen dan wilayah ini termasuk dalam lokus stunting yang ditetapkan Kabupaten Lamongan. Data bulan timbang kemudian menunjukkan prevalensi sebesar 14,6 persen pada Februari 2019 dan turun menjadi 10,4 persen pada Agustus 2019. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan akan intervensi yang konsisten, terarah, dan melibatkan banyak pihak. KEPITING SUKORAME dibangun melalui pendekatan lintas sektor yang mempertemukan unsur Puskesmas, Muspika, pemerintah desa, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, PPKB, KUA, serta tokoh masyarakat. Tim Stunting dibentuk untuk merencanakan, melaksanakan, dan memantau kegiatan penurunan stunting di tingkat kecamatan dan desa. Keterlibatan banyak pihak diperlukan karena penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi pola asuh, kesehatan ibu, sanitasi, infeksi berulang, dan kondisi sosial masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan membuat intervensi tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat menyasar faktor penyebab secara lebih luas. Di tingkat masyarakat, KEPITING SUKORAME memperkuat peran Kader Jupanting atau Juru Pantau Stunting yang dibentuk di setiap dusun di wilayah kerja Puskesmas Sukorame. Kader mendapatkan pelatihan mengenai pengukuran tinggi dan berat badan, metode edukasi, serta Pemberian Makan Bayi dan Anak agar mampu melakukan pemantauan secara lebih tepat. Pendataan balita dilakukan dengan pendekatan by name by address dan dilanjutkan dengan kunjungan rumah untuk melakukan audit serta mengenali faktor yang berkontribusi terhadap kondisi anak. Data yang lebih rinci menjadi dasar bagi tim untuk menentukan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Program juga memberikan Pemberian Makanan Tambahan pemulihan kepada balita gizi kurang dan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis. Pemberian PMT dilakukan selama tiga bulan dengan monitoring dan evaluasi setiap bulan untuk melihat perkembangan status gizi sasaran. Selain itu, calon pengantin mendapat penyuluhan mengenai status gizi, persiapan kehamilan, imunisasi TT, dan pemeriksaan kesehatan awal, sedangkan ibu hamil memperoleh edukasi gizi seimbang, ANC terpadu, serta informasi mengenai ASI dan MP-ASI. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting dilakukan sejak sebelum kehamilan hingga masa tumbuh kembang anak. KEPITING SUKORAME juga memasukkan aspek perilaku dan lingkungan melalui Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Upaya tersebut mendorong masyarakat menerapkan kebiasaan tidak buang air besar sembarangan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengelola air minum rumah tangga, mengelola sampah, serta mengolah limbah cair rumah tangga. Program turut memperkuat imunisasi dasar lengkap pada balita untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Edukasi Pemberian Makanan Bayi dan Anak juga dikembangkan melalui program Primadona Stunting agar pesan gizi lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh keluarga. Dampak program terlihat pada penurunan jumlah balita stunting berdasarkan data bulan timbang selama tiga tahun. Jumlah balita stunting pada Agustus 2019 tercatat sebanyak 113 anak, kemudian turun menjadi 103 anak pada Agustus 2020, dan kembali menurun menjadi 88 anak pada Agustus 2021. Penurunan tersebut menjadi indikator bahwa intervensi yang dilakukan melalui KEPITING SUKORAME berjalan searah dengan tujuan program untuk mengurangi stunting secara bertahap. Keberlanjutan tetap diperlukan karena persoalan stunting membutuhkan pemantauan jangka panjang dan konsistensi dukungan lintas sektor. Pemerintah Kabupaten Lamongan juga memberikan perhatian terhadap inovasi ini sebagai bagian dari percepatan penurunan stunting di Kecamatan Sukorame. Pada Februari 2023, saat peresmian fasilitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Sukorame, inovasi KEPITING SUKORAME mendapat apresiasi sebagai upaya puskesmas dalam mendukung percepatan penurunan stunting. Pedoman teknis mencatat mekanisme pelayanan inovasi dapat menghasilkan proses dalam waktu satu hari, sedangkan proses penciptaannya dirancang melalui tahapan sekitar satu hingga tiga bulan. Dengan basis data, kader lokal, intervensi gizi, edukasi, sanitasi, dan koordinasi lintas sektor, KEPITING SUKORAME menjadi model pelayanan yang menempatkan pencegahan stunting sebagai tanggung jawab bersama. Sumber bahan: KEPITING SUKORAME (Kelompok Peduli Stunting Sukorame), Kabupaten Lamongan, 2023; serta laman resmi Puskesmas Sukorame dan Pemerintah Kabupaten Lamongan.
TAGS: #inovasi daerah