inovasi daerah
KELAR UAS, Kelas Lima Hari Puskesmas Maduran Bantu Tekan Stunting di Klagen Srampat
Oleh Administrator
•
14 August 2026
KELAR UAS, Kelas Lima Hari Puskesmas Maduran Bantu Tekan Stunting di Klagen Srampat (Foto: Pelaksanaan KELAR UAS (Kelas Lima Hari untuk Atasi Stunting) yang melibatkan ibu balita, tenaga kesehatan, dan lintas program di wilayah kerja Puskesmas Maduran. Foto: Puskesmas Maduran Kabupaten Lamongan.)
Kasus stunting di Desa Klagen Srampat menjadi perhatian Puskesmas Maduran setelah hasil bulan timbang Februari 2022 menemukan 20 balita stunting dari...
Kasus stunting di Desa Klagen Srampat menjadi perhatian Puskesmas Maduran setelah hasil bulan timbang Februari 2022 menemukan 20 balita stunting dari 98 balita yang ditimbang. Audit terhadap kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya berkaitan dengan asupan, tetapi juga pengetahuan ibu mengenai pemberian makan bayi dan anak, ASI eksklusif, gizi seimbang, serta pola asuh. Kondisi itu mendorong lahirnya KELAR UAS atau Kelas Lima Hari untuk Atasi Stunting sebagai intervensi edukatif berbasis komunitas. Program ini dirancang agar ibu balita memperoleh pemahaman yang lebih utuh sekaligus keterampilan praktis untuk memperbaiki pola pengasuhan dan pemenuhan gizi anak.
KELAR UAS dilaksanakan selama lima hari di balai desa dengan melibatkan 15 ibu balita sebagai peserta. Hari pertama diisi dengan pembukaan, skrining, perkenalan, dan pre-test untuk memetakan tingkat pengetahuan serta masalah yang dialami keluarga. Hasil skrining kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan materi yang paling sesuai dengan kebutuhan peserta. Pendekatan ini membuat kegiatan tidak bersifat umum, tetapi langsung diarahkan pada faktor yang berkontribusi terhadap stunting di Desa Klagen Srampat.
Materi hari kedua berfokus pada hubungan kenaikan berat badan, pola makan anak, dan perilaku hidup bersih dan sehat. Peserta mendapatkan edukasi mengenai cuci tangan, pentingnya datang ke posyandu, ISPA, penyakit yang tidak selalu terlihat, hingga masalah pertumbuhan gigi yang dapat memengaruhi nafsu makan balita. Pada hari ketiga, pembahasan diarahkan pada penanganan diare dan pola asuh yang baik selama anak mengalami gangguan kesehatan. Materi tersebut diberikan agar orang tua tidak hanya mengetahui masalah gizi, tetapi juga memahami kondisi kesehatan yang dapat menghambat pertumbuhan anak.
Hari keempat membahas pemberian makan bayi dan anak, mitos yang berkembang di masyarakat, serta cara memenuhi gizi seimbang, beragam, dan aman. Pada hari kelima, peserta mengikuti praktik pembuatan MPASI sekaligus post-test untuk melihat perubahan pengetahuan setelah rangkaian kelas selesai. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu mengenai PMBA, pola asuh, dan pemenuhan gizi balita. Model kelas praktis ini membuat peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mencoba langsung keterampilan yang dapat diterapkan di rumah.
Pelaksanaan KELAR UAS melibatkan lintas program dan lintas sektor agar penanganan stunting dilakukan secara menyeluruh. Tenaga yang terlibat mencakup ahli gizi, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, KIA, dokter umum, dokter gigi, serta program diare, ISPA, dan program lain yang berkaitan dengan masalah hasil audit. Kolaborasi tersebut memungkinkan setiap faktor penyebab stunting ditangani oleh tenaga yang sesuai dengan kompetensinya. Keterlibatan kader dan pemerintah setempat juga penting untuk memastikan pemantauan balita tetap berjalan setelah kegiatan lima hari berakhir.
Dampak program terlihat pada evaluasi berikutnya ketika jumlah balita stunting di Desa Klagen Srampat turun dari 20 menjadi 10 balita. Hasil tersebut dibahas dalam RAKORCAM sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting di tingkat kecamatan. KELAR UAS juga dirancang agar mudah direplikasi karena pelaksanaannya bertumpu pada analisis masalah, pemilihan materi sesuai kebutuhan, dan kolaborasi sumber daya yang sudah tersedia. Dengan pola tersebut, inovasi ini memiliki peluang untuk diterapkan di desa lain dengan menyesuaikan akar masalah yang ditemukan di masing-masing wilayah.
Keberlanjutan KELAR UAS dijaga melalui komitmen kader, bidan desa, dan petugas Puskesmas Maduran, pertemuan lintas sektor, pemantauan posyandu, serta monitoring hasil penimbangan dan audit. Pelatihan dan penyegaran pengetahuan kader juga direncanakan secara berkala agar edukasi gizi tetap konsisten di masyarakat. Puskesmas Maduran mempublikasikan KELAR UAS sebagai inovasi yang melibatkan lintas program Gizi, Promkes, KIA, dokter umum, diare, dan filariasis, dengan skrining sebagai dasar pemilihan materi kelas. Melalui kombinasi edukasi, praktik, evaluasi, dan pemberdayaan masyarakat, KELAR UAS menjadi salah satu upaya nyata untuk mempercepat penurunan stunting di wilayah kerja Puskesmas Maduran.
Sumber bahan: KELAR UAS (Kelas Lima Hari untuk Atasi Stunting), Kabupaten Lamongan, 2023; serta dokumentasi resmi Puskesmas Maduran Kabupaten Lamongan.
TAGS:
#inovasi daerah