inovasi daerah
BU EWIS Jadi Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Perundungan di Sekolah Lamongan
Oleh Administrator
•
14 August 2026
BU EWIS Jadi Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Perundungan di Sekolah Lamongan (Foto: Dokumentasi resmi Pemerintah Kabupaten Lamongan pada momentum apresiasi Smart ASN 2023, yang turut menampilkan pengakuan terhadap inovasi BU EWIS dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan. Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lamongan.)
BU EWIS menjadi sistem peringatan dini berbasis digital untuk mendeteksi potensi perundungan di lingkungan sekolah Kabupaten Lamongan. Melalui survei yang melibatkan siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua, inovasi ini membantu memetakan tingkat risiko serta menjadi dasar bagi sekolah dan Dinas Pendidikan untuk melakukan pencegahan dan penanganan secara lebih cepat dan tepat.
Lamongan – Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan mengembangkan BU EWIS (Bullying Early Warning Information System) sebagai sistem informasi peringatan dini untuk mendeteksi potensi perundungan di lingkungan sekolah. Inovasi berbasis digital ini melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua sebagai responden untuk memotret kondisi sekolah secara lebih menyeluruh. Hasil survei digunakan untuk mengidentifikasi tingkat potensi perundungan sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih serius. Melalui pendekatan tersebut, sekolah dan Dinas Pendidikan memiliki dasar data untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan secara lebih cepat.
Pengembangan BU EWIS berangkat dari masih tingginya persoalan perundungan terhadap anak. Pedoman teknis mencatat hasil TIMSS 2011 yang menunjukkan 55 persen anak Indonesia usia 11 hingga 15 tahun pernah menjadi korban perundungan di sekolah, sementara KPAI mencatat 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak sepanjang 2011–2019 dan 2.473 laporan atau 6,6 persen di antaranya berkaitan dengan perundungan. Pada 2022, Kementerian PPPA mencatat 21.241 anak menjadi korban kekerasan di Indonesia dan Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah korban terbanyak, yakni 1.881 anak. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan akan sistem yang mampu melakukan deteksi lebih awal sebelum kekerasan atau perundungan terjadi.
Di Kabupaten Lamongan, persoalan kekerasan terhadap anak juga menjadi perhatian serius. Data yang dicantumkan dalam pedoman teknis menunjukkan pada 2020 terdapat 24 kasus kekerasan terhadap anak dan delapan kasus kekerasan terhadap perempuan, kemudian pada 2021 meningkat menjadi 27 perkara terhadap anak dan 15 perkara terhadap perempuan. Peristiwa perundungan yang sempat menjadi sorotan pada Agustus 2023 semakin menegaskan pentingnya penguatan mekanisme pencegahan di lingkungan pendidikan. BU EWIS kemudian dirancang agar potensi masalah dapat dibaca lebih dini melalui persepsi dan pengalaman warga sekolah.
Sistem BU EWIS tidak hanya mengukur persepsi mengenai perundungan, tetapi juga mencakup tata kelola pencegahan dan penanganan, ketersediaan sarana-prasarana pendukung, serta perlindungan terhadap korban, pelapor, dan saksi. Kelengkapan instrumen tersebut menjadi salah satu pembeda BU EWIS dibandingkan survei lingkungan belajar yang telah ada. Pelibatan orang tua sebagai responden juga memperluas sudut pandang karena proses deteksi tidak hanya bertumpu pada pihak sekolah. Dengan basis informasi yang lebih beragam, pemetaan risiko diharapkan dapat menggambarkan kondisi sekolah secara lebih akurat.
Hasil pengisian survei diproses menjadi pemetaan tingkat kewaspadaan yang membantu sekolah memahami posisi risikonya. Pedoman teknis menggambarkan tiga tingkat peringatan, yakni green level atau tingkat normal-waspada, yellow level atau tingkat siaga, dan red level atau tingkat awas. Setelah pemetaan terbentuk, Dinas Pendidikan memberikan rekomendasi kepada sekolah untuk ditindaklanjuti sesuai tingkat potensi perundungan yang teridentifikasi. Mekanisme ini membuat pencegahan tidak lagi menunggu terjadinya kasus, tetapi bergerak berdasarkan tanda-tanda awal yang terdeteksi melalui sistem.
BU EWIS juga berfungsi sebagai sarana kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan Dinas Pendidikan. Data yang terkumpul membantu sekolah menyusun intervensi yang lebih tepat, sementara orang tua memperoleh ruang untuk menyampaikan persepsi terhadap kondisi anak dan lingkungan sekolah. Sistem ini sekaligus mendorong perlindungan yang lebih baik bagi korban, pelapor, maupun saksi agar mereka merasa aman ketika memberikan informasi. Kolaborasi tersebut diharapkan membangun lingkungan belajar yang lebih nyaman, sehat, dan mendukung perkembangan psikososial siswa.
Melalui BU EWIS, Pemerintah Kabupaten Lamongan memperkuat upaya pencegahan perundungan dengan memanfaatkan teknologi dan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Publikasi resmi Pemerintah Kabupaten Lamongan pada November 2023 mencatat aplikasi ini telah digunakan oleh 48 SMP negeri dan direncanakan untuk diperluas ke jenjang pendidikan lain. Inovasi tersebut juga memperoleh apresiasi ketika penggagasnya dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan meraih penghargaan Smart ASN terbaik 2023. Dengan pengembangan berkelanjutan, BU EWIS diharapkan menjadi instrumen penting untuk menciptakan satuan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.
TAGS:
#inovasi daerah