POPULIS WARTA

Suara Masyarakat, Inspirasi Perubahan

Edisi Digital Regional
pendidikan

BMW-K Hidupkan Tari Nugal melalui Pembelajaran yang Menyenangkan

Oleh Administrator 14 August 2026
BMW-K Hidupkan Tari Nugal melalui Pembelajaran yang Menyenangkan

BMW-K Hidupkan Tari Nugal melalui Pembelajaran yang Menyenangkan (Foto: Dokumen Pendukung Inovasi BMW-K)

Program Belajar Menari Wow Keren mengajak siswa SD Negeri 1 Tebing Tinggi mengenal tari tradisional Empat Lawang melalui koreografi sederhana, suasana ceria, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi komunikasi.

EMPAT LAWANG — SD Negeri 1 Tebing Tinggi mengembangkan inovasi BMW-K untuk menghidupkan pembelajaran tari daerah melalui suasana yang menyenangkan. Program ini mengajak siswa mengenal Tari Nugal sambil membangun rasa percaya diri, kreativitas, kebugaran, kerja sama, dan kebanggaan terhadap budaya lokal.

Seni tari kerap dipandang sebagai kegiatan yang kaku dan menuntut kemampuan fisik. Pandangan tersebut dapat membuat anak ragu bergerak karena takut salah atau merasa tidak percaya diri. Padahal, esensi tari terletak pada ekspresi, kegembiraan, dan kemampuan menyampaikan emosi melalui gerak. Suasana belajar yang santai dapat membantu kreativitas siswa berkembang tanpa tekanan.

Di SD Negeri 1 Tebing Tinggi, keterbatasan narasumber dan pengetahuan mengenai tari daerah menjadi tantangan dalam pembelajaran seni. Di tengah perubahan zaman, sebagian siswa juga belum memandang tari tradisional sebagai aktivitas yang menarik. Kondisi tersebut mendorong lahirnya BMW-K atau Belajar Menari Wow Keren sebagai metode pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan.

Tari daerah akan lebih mudah dicintai ketika anak belajar bergerak dengan gembira, percaya diri, dan merasa menjadi bagian dari kebudayaannya sendiri.

Tari Nugal Menjadi Pusat Pembelajaran

BMW-K memusatkan pembelajaran pada Tari Nugal, tarian tradisional Kabupaten Empat Lawang yang menggambarkan kegiatan menanam padi darat. Tema tersebut dipilih karena dekat dengan kehidupan dan identitas masyarakat setempat. Gerakan sehari-hari kemudian diolah menjadi koreografi yang mudah dipelajari siswa sekolah dasar. Melalui tarian ini, anak mengenal budaya bukan hanya lewat cerita, tetapi juga melalui pengalaman tubuh.

Perancangan tarian dilakukan melalui lima langkah utama, yakni menentukan tema, menyusun koreografi, menyiapkan musik pengiring, memilih kostum, dan menetapkan properti tari. Setiap unsur dirancang agar sesuai dengan kemampuan anak. Guru tidak menempatkan diri sebagai pusat instruksi, melainkan menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan ritme, arah gerak, dan ekspresi terbaiknya.

Pendekatan BMW-K menggeser pola imitasi yang kaku menuju eksplorasi partisipatif. Siswa tetap mengenal pakem dan nilai tradisional, tetapi diberi ruang untuk menikmati proses belajar. Musik yang ceria, narasi yang mudah dipahami, serta unsur permainan membuat latihan terasa lebih dekat dengan dunia anak. Tari daerah pun tidak lagi dianggap kuno atau membosankan.

Kegiatan menari juga membangun hubungan sosial antar siswa. Mereka belajar menyelaraskan langkah, menjaga pola lantai, serta menyesuaikan gerak dengan kelompok. Siswa yang lebih cepat menguasai gerakan dapat membantu temannya yang masih kesulitan. Proses tersebut menumbuhkan gotong royong, kesabaran, dan rasa saling menghargai.

Tiga Bulan Pembelajaran dan Penyempurnaan

Inovasi dikembangkan selama 12 minggu atau tiga bulan, mulai Februari hingga April 2024. Tahap pertama dilakukan dengan mengidentifikasi kejenuhan siswa terhadap pembelajaran tari yang bersifat satu arah. Hasil pengamatan menunjukkan perlunya metode yang tidak hanya melatih kemampuan gerak, tetapi juga menyentuh aspek emosional. Temuan itu menjadi dasar untuk merancang kegiatan yang interaktif dan menggembirakan.

Uji coba awal dilaksanakan pada 30 siswa kelas IV B dalam kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Latihan berlangsung setiap Kamis pada pukul 13.00 hingga 16.30. Setelah memperoleh respons positif dan menjalani perbaikan teknis, pelaksanaan diperluas kepada siswa kelas IV A, IV B, IV C, dan IV D. Evaluasi dilakukan terhadap keterlibatan siswa, penguasaan materi, dan perubahan perilaku selama proses belajar.

WhatsApp digunakan sebagai sarana komunikasi antara guru dan siswa. Melalui grup kelas, guru menyampaikan jadwal latihan, kebutuhan kostum, serta properti yang harus dibawa, seperti bakul atau tongkat pramuka. Informasi yang tersampaikan lebih cepat membantu siswa dan orang tua menyiapkan kegiatan. Teknologi sederhana tersebut mendukung sinkronisasi proses belajar antara sekolah dan rumah.

Menari untuk Percaya Diri dan Melestarikan Budaya

BMW-K diarahkan untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa agar mereka nyaman mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Gerak tari juga melatih fleksibilitas, keseimbangan, kebugaran, fokus, dan daya ingat. Ketika anak berhasil mengikuti pola langkah dan koreografi, muncul rasa bangga terhadap kemampuan yang dimiliki. Kegembiraan saat menari turut membantu mengurangi tekanan belajar.

Dari sisi pendidikan karakter, tari kelompok menanamkan disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kepedulian terhadap teman. Nilai kesantunan, kerendahan hati, dan ketegasan yang terkandung dalam tari daerah dipelajari melalui praktik. Anak tidak sekadar menghafal gerakan, tetapi memahami bahwa sebuah penampilan hanya berhasil ketika seluruh anggota saling mendukung.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan identitas budaya Empat Lawang sejak usia sekolah dasar. Dengan pembelajaran yang menyenangkan, siswa diharapkan bangga mengenakan atribut daerah dan membawakan tari tradisional. BMW-K menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan beriringan dengan metode belajar modern. Warisan budaya pun tetap hidup melalui gerak dan sukacita generasi muda.

Informasi Sumber & Rilis Berita

Media Asal: Dokumen Pendukung Inovasi BMW-K

Atribusi: SDN Negeri 1 Tebing

Tanggal Rilis: 12/06/2025

TAGS: #BMW-K #Tari Nasional #Tari Nugal #Belajar #Menari