inovasi daerah
LIDISERU Dorong Budaya Baca dan Literasi Digital Siswa SD Negeri Beru Lamongan BERITA RISDA KABUPATEN LAMONGAN
Oleh Administrator
•
14 August 2026
LIDISERU Dorong Budaya Baca dan Literasi Digital Siswa SD Negeri Beru Lamongan BERITA RISDA KABUPATEN LAMONGAN (Foto: Dokumentasi asli kegiatan LIDISERU di SD Negeri Beru, Kecamatan Sarirejo, yang memperlihatkan siswa memanfaatkan perangkat digital untuk kegiatan literasi. Sumber: SD Negeri Beru Kabupaten Lamongan.)
Lamongan – SD Negeri Beru, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan, mengembangkan inovasi LIDISERU (Literasi Digital SD Negeri Beru) sebagai upaya memp...
Lamongan – SD Negeri Beru, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan, mengembangkan inovasi LIDISERU (Literasi Digital SD Negeri Beru) sebagai upaya memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kemampuan literasi digital siswa. Inovasi ini hadir dari kebutuhan sekolah untuk menyediakan sumber belajar yang lebih mudah diakses di tengah keterbatasan koleksi perpustakaan fisik, ruang baca, dan waktu layanan. Siswa yang sebelumnya telah akrab dengan telepon pintar dan perangkat digital diarahkan untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar yang lebih produktif. Melalui LIDISERU, akses terhadap bahan bacaan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja selama tersedia perangkat dan jaringan yang mendukung.
LIDISERU dikembangkan sebagai perpustakaan digital berbasis Google Sites yang memuat berbagai koleksi bahan bacaan sesuai jenjang kemampuan siswa. Koleksi tersebut tidak hanya berupa buku teks, tetapi juga cerita bergambar, buku anak, karya sastra populer, buku audio, video edukatif, dan komik digital. Materi disusun berdasarkan tingkat pembaca, mulai dari pembaca dini hingga pembaca mahir, sehingga siswa dapat memilih bahan bacaan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Pendekatan tersebut membuat kegiatan literasi menjadi lebih fleksibel, menarik, dan ramah bagi berbagai gaya belajar siswa.
Pelaksanaan inovasi juga terintegrasi dengan kebiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Selain membaca di sekolah, siswa didorong memanfaatkan aplikasi LIDISERU di rumah untuk membaca secara mandiri, sementara orang tua dilibatkan untuk mendampingi kegiatan literasi anak. Setiap hari Selasa, siswa memperoleh kesempatan untuk menceritakan kembali isi buku yang telah dibaca di hadapan teman-temannya. Pola ini tidak hanya mendorong kebiasaan membaca, tetapi juga melatih kemampuan memahami informasi, menyampaikan kembali isi bacaan, serta meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu kekuatan utama LIDISERU. Platform dapat diakses menggunakan telepon pintar, tablet, maupun komputer dan didukung layanan Google Workspace seperti Google Sites, Forms, dan Sheets. Sistem juga dilengkapi fitur login pengunjung sehingga aktivitas penggunaan dapat dicatat dan dimanfaatkan untuk memantau keterlibatan siswa. Laman profil perpustakaan turut menampilkan identitas, program literasi, serta informasi kegiatan sehingga LIDISERU berkembang menjadi ruang belajar digital yang lebih terstruktur dan partisipatif.
Pedoman teknis mencatat proses penciptaan inovasi dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga bulan dengan pendekatan kerja yang terstruktur. Tahap awal dilakukan melalui analisis kebutuhan siswa dan guru, dilanjutkan dengan pengembangan platform, pengumpulan konten digital, pelatihan pengguna, uji coba versi beta, dan penyempurnaan sistem. Pada tahap awal implementasi, platform disebut telah digunakan secara aktif oleh sekitar 70 persen siswa. Capaian tersebut menunjukkan bahwa layanan digital dapat menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan sumber bacaan sekaligus memperluas kesempatan belajar.
Pengembangan LIDISERU juga melibatkan kolaborasi antara sekolah, siswa, guru, orang tua, serta dukungan relawan teknologi. Orang tua tidak hanya berperan mendampingi anak membaca di rumah, tetapi juga membantu membangun kebiasaan penggunaan gawai yang lebih positif. Penggunaan perangkat digital yang sebelumnya lebih banyak diarahkan pada permainan dan media sosial diubah menjadi aktivitas membaca dan mencari informasi edukatif. Kolaborasi tersebut memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Pelaksanaan LIDISERU menunjukkan perkembangan positif terhadap kompetensi literasi siswa. Publikasi resmi SD Negeri Beru mencatat persentase siswa yang mencapai kompetensi minimum literasi pada 2024 sebesar 83,33 persen, meningkat 6,41 poin dari capaian 2023 yang sebesar 76,92 persen. Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pembiasaan membaca dan pemanfaatan bahan bacaan digital dapat mendukung kemampuan literasi siswa. Program ini juga membantu sekolah memenuhi kebutuhan bahan bacaan ramah anak sekaligus memperkenalkan keterampilan digital sejak pendidikan dasar.
Melalui LIDISERU, SD Negeri Beru berupaya menjadikan teknologi bukan sekadar sarana hiburan, tetapi sebagai bagian dari proses belajar dan pembentukan budaya membaca. Inovasi ini memberikan kemudahan akses bagi siswa, menyediakan referensi yang lebih variatif bagi guru, serta memberi ruang bagi orang tua untuk terlibat dalam proses pendidikan anak. Dengan platform yang sederhana, berbiaya rendah, dan mudah direplikasi, LIDISERU memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai model literasi digital di sekolah dasar lainnya. Upaya tersebut sekaligus mendukung transformasi pembelajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
TAGS:
#inovasi daerah