inovasi daerah
SULING BAMBU Bawa Edukasi Pencegahan DBD Langsung ke Tengah Masyarakat Pucuk BERITA RISDA KABUPATEN LAMONGAN
Oleh Administrator
•
14 August 2026
SULING BAMBU Bawa Edukasi Pencegahan DBD Langsung ke Tengah Masyarakat Pucuk BERITA RISDA KABUPATEN LAMONGAN (Foto: Dokumentasi asli kegiatan pencegahan Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Lamongan. Foto digunakan sebagai gambar pendukung karena dokumentasi asli SULING BAMBU yang terpublikasi secara resmi tidak tersedia dalam resolusi tinggi pada portal web. Sumber: Puskesmas Sugio Kabupaten Lamongan.)
Lamongan – Puskesmas Pucuk Kabupaten Lamongan menghadirkan inovasi SULING BAMBU (Suluh Keliling Bawa Ambulan) sebagai upaya memperkuat pencegahan dan...
Lamongan – Puskesmas Pucuk Kabupaten Lamongan menghadirkan inovasi SULING BAMBU (Suluh Keliling Bawa Ambulan) sebagai upaya memperkuat pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah Dengue atau DBD. Program ini memanfaatkan ambulans bukan hanya sebagai kendaraan pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai media penyuluhan keliling yang mendatangi masyarakat secara langsung. Melalui pendekatan tersebut, informasi mengenai gejala, penularan, serta langkah pencegahan DBD dapat disampaikan lebih luas hingga ke wilayah yang sulit dijangkau. Inovasi ini sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan penyakit.
SULING BAMBU berangkat dari kebutuhan akan edukasi DBD yang lebih intensif, menyeluruh, dan terkoordinasi. Penyakit DBD disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, sehingga keberhasilan pencegahan sangat bergantung pada pemahaman dan partisipasi masyarakat. Kurangnya pengetahuan mengenai tempat berkembang biak nyamuk, gejala penyakit, dan tindakan pencegahan dapat meningkatkan risiko penularan di lingkungan tempat tinggal. Karena itu, Puskesmas Pucuk memilih pendekatan jemput bola agar pesan kesehatan tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas pelayanan.
Dalam pelaksanaannya, ambulans dilengkapi mikrofon dan perangkat audio untuk menyampaikan informasi selama berkeliling ke desa dan komunitas. Petugas kesehatan dan relawan memberikan penjelasan mengenai DBD sekaligus membagikan leaflet edukatif yang dapat dibawa pulang masyarakat. Materi penyuluhan mencakup pengenalan gejala DBD, cara penularan, pemberantasan sarang nyamuk, serta pentingnya menghilangkan genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak Aedes aegypti. Model komunikasi langsung ini membuat penyuluhan lebih dinamis dan memungkinkan informasi menjangkau masyarakat dalam waktu relatif cepat.
SULING BAMBU juga membuka ruang interaksi melalui sesi tanya jawab dan diskusi singkat selama kegiatan berlangsung. Masyarakat dapat menyampaikan pertanyaan maupun kekhawatiran mengenai DBD dan memperoleh penjelasan langsung dari tenaga kesehatan. Cara ini membantu mengurangi kesalahpahaman sekaligus memperkuat pemahaman tentang langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan di rumah. Keterlibatan langsung masyarakat diharapkan membentuk kebiasaan preventif yang lebih konsisten dalam menjaga kesehatan lingkungan.
Promosi perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan SULING BAMBU. Masyarakat didorong untuk melakukan pengendalian tempat berkembang biaknya nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, serta memastikan tidak ada wadah yang menampung air dalam waktu lama. Upaya promotif dan preventif tersebut dinilai penting terutama pada musim hujan ketika potensi munculnya genangan dan berkembangnya nyamuk meningkat. Dengan penyuluhan yang dilakukan secara berulang, kesadaran kolektif terhadap risiko DBD diharapkan semakin kuat.
Pelaksanaan program tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi dilengkapi kegiatan pelaporan dan evaluasi. Data serta umpan balik masyarakat dikumpulkan untuk menilai efektivitas penyuluhan dan menjadi bahan penyesuaian strategi pada kegiatan berikutnya. Pedoman teknis juga menekankan bahwa proses layanan inovasi dapat berlangsung secara cepat, bahkan dalam satu hari pelaksanaan kegiatan. Evaluasi berkelanjutan menjadi bagian penting agar pesan kesehatan yang disampaikan tetap relevan dengan kondisi masyarakat di lapangan.
Melalui SULING BAMBU, Puskesmas Pucuk berupaya menghadirkan layanan promosi kesehatan yang lebih dekat, aktif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan ambulans sebagai media edukasi menjadikan kendaraan pelayanan kesehatan memiliki fungsi tambahan untuk memperluas jangkauan informasi pencegahan DBD. Penyuluhan keliling, pembagian leaflet, diskusi, serta promosi kebersihan lingkungan dirangkai dalam satu pendekatan pelayanan yang terintegrasi. Dengan keterlibatan masyarakat yang semakin kuat, inovasi ini diharapkan mampu menekan risiko penularan DBD sekaligus membangun budaya pencegahan penyakit yang lebih berkelanjutan di Kecamatan Pucuk.
TAGS:
#inovasi daerah