SIBER Bawa Imunisasi ke Rumah, Bayi dan Balita yang Terlewat Dicari Petugas
SIBER Bawa Imunisasi ke Rumah, Bayi dan Balita yang Terlewat Dicari Petugas (Foto: Petugas kesehatan memberikan imunisasi kepada anak dalam pelayanan vaksinasi di Jakarta, 27 Agustus 2020. Foto digunakan sebagai pendukung konteks pelayanan imunisasi dan bukan dokumentasi SIBER Puskesmas Serui Kota. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar.)
Puskesmas Serui Kota menjalankan SIBER atau Imunisasi Berjalan untuk meningkatkan cakupan imunisasi bayi dan balita melalui pendekatan jemput bola. Petugas mendata anak yang status imunisasinya belum lengkap, lalu melakukan kunjungan rumah dan memberikan pelayanan sesuai kebutuhan. Jadwal serta edukasi imunisasi juga disebarkan melalui WhatsApp, Facebook, dan Instagram Puskesmas.
SERUI — Imunisasi
menjadi salah satu cara utama melindungi bayi dan balita dari penyakit yang
dapat dicegah dengan vaksin. Namun, jadwal yang terlewat, kekhawatiran efek
samping, informasi keliru, serta rendahnya pemahaman keluarga masih dapat
membuat anak tidak memperoleh imunisasi lengkap. Puskesmas Serui Kota
mengembangkan SIBER agar pelayanan tidak hanya menunggu orang tua membawa anak
ke fasilitas kesehatan. Petugas mendatangi rumah bayi dan balita yang belum
lengkap status imunisasinya berdasarkan pendataan wilayah.
Proposal SIBER
menempatkan orang tua sebagai sasaran penting edukasi karena keputusan
imunisasi anak berada di lingkungan keluarga. Informasi mengenai manfaat
vaksin, jadwal pelayanan, dan keamanan imunisasi perlu disampaikan secara
konsisten agar keraguan dapat berkurang. Program juga merespons munculnya hoaks
dan anggapan negatif mengenai vaksin yang dapat memengaruhi keputusan keluarga.
Edukasi karena itu dilakukan bersamaan dengan pelayanan langsung.
“Anak
yang terlewat jadwal tidak boleh berhenti menjadi angka; petugas harus
mengetahui siapa mereka dan memastikan kesempatan imunisasi tetap tersedia.”
Jemput Bola untuk Anak
yang Belum Lengkap
Petugas terlebih dahulu
mendata dan memetakan status imunisasi bayi dan balita di setiap wilayah kerja.
Data tersebut digunakan untuk menentukan anak yang perlu diprioritaskan dalam
kunjungan. Pelayanan kemudian dilakukan dari rumah ke rumah bagi bayi atau
balita yang belum lengkap imunisasinya. Cara ini membantu menjangkau keluarga
yang tidak hadir pada jadwal Puskesmas, Pustu, atau Posyandu.
SIBER juga memanfaatkan
kanal digital untuk memperluas penyampaian informasi. Jadwal imunisasi dan
materi edukasi dibagikan melalui WhatsApp, Facebook, dan Instagram Puskesmas
sehingga keluarga dapat memperoleh informasi tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.
Media sosial juga digunakan untuk meluruskan hoaks dan menjawab kekhawatiran
yang berkembang di masyarakat. Komunikasi digital melengkapi penyuluhan tatap
muka yang tetap dilakukan di Puskesmas, Pustu, Posyandu, dan saat kunjungan
rumah.
Kolaborasi lintas
sektor menjadi bagian penting dari pelaksanaan program. Kader Posyandu, kepala
kampung atau lurah, serta tokoh masyarakat dan agama dilibatkan untuk
menyampaikan informasi dan memperkuat dukungan sosial terhadap imunisasi.
Dukungan dari tokoh yang dipercaya masyarakat dapat membantu menjawab keraguan
yang tidak selalu dapat diselesaikan melalui penjelasan medis semata.
Pendekatan ini membuat imunisasi menjadi agenda bersama, bukan hanya tugas
petugas kesehatan.
Hasil kegiatan SIBER
disinkronkan dengan program SIRUP atau Sertifikat Imunisasi Dasar Lengkap.
Integrasi tersebut membantu pencatatan capaian setiap anak sehingga status
imunisasi dapat dipantau secara lebih konsisten. Monitoring dilakukan secara
berkala untuk mengetahui cakupan pelayanan dan kelompok yang masih tertinggal.
Data menjadi dasar untuk menentukan strategi kunjungan dan edukasi berikutnya.
Imunisasi
Lengkap, Perlindungan Lebih Kuat
Tujuan utama SIBER
adalah meningkatkan jumlah bayi dan balita yang memperoleh imunisasi dasar dan
lengkap. Dengan status imunisasi yang lebih baik, risiko penyakit seperti
tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio, dan campak dapat
ditekan sesuai jenis vaksin yang diberikan. Perlindungan ini penting karena
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi tetap dapat menimbulkan kesakitan,
kecacatan, bahkan kematian. Program memastikan anak yang terlewat jadwal tetap
memiliki kesempatan memperoleh pelayanan.
Kunjungan rumah juga
memberi manfaat berupa konsultasi langsung antara petugas dan keluarga. Orang
tua dapat menyampaikan kekhawatiran mengenai efek samping, jadwal, atau kondisi
kesehatan anak sebelum imunisasi diberikan. Petugas kemudian menjelaskan informasi
yang sesuai dan memberi arahan apabila anak membutuhkan penilaian lebih lanjut.
Interaksi ini membantu meningkatkan kepercayaan keluarga terhadap pelayanan
imunisasi.
Selain akses, SIBER
menargetkan perubahan pengetahuan masyarakat. Informasi yang benar diharapkan
membuat keluarga tidak mudah terpengaruh isu negatif atau hoaks tentang vaksin.
Ketika orang tua memahami manfaat, jadwal, dan risiko penyakit yang dapat dicegah,
keputusan untuk melengkapi imunisasi menjadi lebih kuat. Edukasi berulang
melalui berbagai kanal membantu membangun pemahaman yang lebih merata.
Keberlanjutan SIBER
bergantung pada ketepatan pendataan, ketersediaan vaksin, koordinasi lintas
sektor, serta disiplin monitoring. Petugas perlu memastikan setiap kunjungan
tercatat agar tidak terjadi pengulangan atau anak kembali terlewat. Evaluasi
rutin juga penting untuk mengetahui wilayah dengan cakupan rendah dan faktor
yang menyebabkan keluarga menolak atau menunda imunisasi. Dengan pendekatan
jemput bola dan edukasi yang konsisten, Puskesmas Serui Kota dapat memperluas
perlindungan imunisasi hingga ke anak yang sebelumnya sulit dijangkau.
Informasi Sumber & Rilis Berita
Media Asal: Proposal Inovasi SIBER (Imunisasi Berjalan), Puskesmas Serui Kota.
Atribusi: Proposal Inovasi SIBER (Imunisasi Berjalan), Puskesmas Serui Kota.