LOBSTER KEPITING Perkuat Pencegahan dan Intervensi Stunting di Kelurahan Jatimulya
LOBSTER KEPITING Perkuat Pencegahan dan Intervensi Stunting di Kelurahan Jatimulya (Foto: Dokumentasi program pemberian makanan tambahan berupa telur bagi balita terindikasi stunting di Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, 16 April 2025. Sumber: Bappeda Kabupaten Bekasi.)
Bekasi – UPTD Puskesmas Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, mengembangkan inovasi LOBSTER KEPITING (Layanan Observasi Terpadu Kegiatan Pencegahan dan Intervensi Stunting) sebagai upaya terpadu mencegah munculnya kasus stunting baru sekaligus mengintervensi kasus yang sudah ditemukan di Kelurahan Jatimulya.
Bekasi – UPTD Puskesmas Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan,
mengembangkan inovasi LOBSTER KEPITING (Layanan Observasi Terpadu Kegiatan
Pencegahan dan Intervensi Stunting) sebagai upaya terpadu mencegah munculnya
kasus stunting baru sekaligus mengintervensi kasus yang sudah ditemukan di
Kelurahan Jatimulya. Program ini menggabungkan pelayanan di dalam dan luar
gedung puskesmas dengan melibatkan lintas program serta lintas sektor karena
penanganan stunting tidak cukup dilakukan dari sisi kesehatan saja. Sasaran
inovasi mencakup remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, bayi,
balita, keluarga, hingga berbagai institusi yang terkait dengan pelayanan
kesehatan masyarakat. Melalui pola tersebut, pencegahan stunting diarahkan
sepanjang siklus kehidupan dan tidak hanya berfokus pada balita.
Pengembangan LOBSTER KEPITING berangkat dari masih ditemukannya
berbagai masalah gizi di Kelurahan Jatimulya. Pada 2024, prevalensi balita
stunting tercatat 3,8 persen, balita gizi buruk 0,43 persen, balita kurus 3,41
persen, dan balita dengan berat badan kurang 9,45 persen. Pada kelompok ibu
hamil, anemia tercatat 1,38 persen dan Kurang Energi Kronik 3,95 persen,
sementara anemia pada remaja putri mencapai 18,9 persen. Memasuki Januari
hingga April 2025, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, termasuk stunting
yang tercatat 0,78 persen, gizi buruk 0,12 persen, dan gizi kurang 0,27 persen.
Pelayanan LOBSTER KEPITING dirancang melalui integrasi program gizi,
promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, kesehatan
remaja, surveilans, kesehatan lingkungan, imunisasi, hingga dukungan lintas
sektor. Kegiatan yang dijalankan antara lain pemberian Tablet Tambah Darah dan
skrining hemoglobin bagi remaja putri, pemeriksaan serta konseling calon
pengantin, demo masak pangan lokal, pelatihan pijat oksitosin, kelas menyusui,
imunisasi, ANC terpadu, pemeriksaan USG, pemberian vitamin A dan obat cacing,
serta penanganan infeksi pada balita. Puskesmas juga melakukan pemantauan
keluarga yang memiliki balita stunting, gizi buruk, gizi kurang, serta ibu
hamil KEK agar intervensi dapat diberikan secara lebih cepat. Rangkaian layanan
ini diperkuat dengan pencatatan, evaluasi, dan umpan balik berkala dalam
pertemuan lintas program maupun lintas sektor.
Salah satu kekuatan inovasi terletak pada keterlibatan masyarakat dan
mitra di luar puskesmas. Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, PKK,
kader posyandu, BKKBN, sekolah, karang taruna, RT/RW, perusahaan, organisasi
masyarakat, Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta, BAZNAS, hingga Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia Cabang Bekasi ikut mengambil peran sesuai kebutuhan program.
Dukungan tersebut membuat intervensi dapat menyentuh aspek kesehatan, gizi,
sanitasi, akses bantuan sosial, edukasi, hingga perubahan perilaku keluarga.
Kerja bersama ini sekaligus membantu menjangkau masyarakat yang sulit mengakses
pelayanan puskesmas secara langsung.
Pendekatan intervensi gizi juga dilakukan dengan mendorong pemanfaatan
pangan lokal. Kader Posyandu dan PKK bersama Puskesmas Jatimulya mengembangkan
demo masak seperti nugget oncom dan keripik bayam sebagai makanan tambahan
tinggi energi dan protein yang relatif murah serta mudah dibuat di rumah.
Pemberian makanan tambahan lokal diperkuat melalui dukungan puskesmas, mitra
industri, dan program CSR, termasuk bantuan nutrisi untuk balita yang
terindikasi stunting. Pola ini diharapkan tidak hanya memperbaiki status gizi
anak selama intervensi berlangsung, tetapi juga membangun kebiasaan keluarga
dalam menyediakan makanan yang lebih seimbang.
Data pelaksanaan menunjukkan perbaikan pada beberapa indikator masalah
gizi dari 2024 hingga April 2025. Prevalensi balita stunting turun dari 3,8
persen menjadi 0,78 persen, balita gizi kurang dari 3,41 persen menjadi 0,27
persen, dan berat badan kurang dari 9,45 persen menjadi 2,67 persen. Pada
kelompok ibu hamil, anemia turun dari 1,38 persen menjadi 0,45 persen dan KEK
dari 3,95 persen menjadi 1,25 persen, sedangkan anemia remaja putri turun dari
18,9 persen menjadi 13,4 persen. Hasil tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan
pemantauan dan intervensi secara konsisten agar perbaikan status gizi dapat
dipertahankan.
Keberlanjutan LOBSTER KEPITING dijaga melalui pemantauan rutin di
posyandu, kunjungan rumah, rembuk stunting, lokakarya mini bulanan, serta
pertemuan lintas sektor secara berkala. Pada 2025, anggaran program juga
diarahkan untuk PMT lokal balita dan ibu hamil KEK, kunjungan lapangan masalah
gizi dan tumbuh kembang, pendampingan rujukan balita stunting atau gizi buruk,
imunisasi di posyandu, serta pendampingan ASI eksklusif dan MPASI. Dengan
sistem kerja yang terpadu, Puskesmas Jatimulya berupaya menjadikan setiap
temuan masalah gizi sebagai dasar tindakan yang cepat dan terkoordinasi.
LOBSTER KEPITING diharapkan terus memperkuat pencegahan stunting sejak remaja
hingga balita sekaligus mendorong terciptanya keluarga Jatimulya yang lebih
sehat dan sadar gizi.
Informasi Sumber & Rilis Berita
Media Asal: Bappeda Bekasi
Atribusi: Pemkab Bekasi