inovasi daerah
LIPSTIK MERAH MANOHARA, Dekatkan Layanan Pasien Kronis hingga ke Rumah
Oleh Administrator
•
14 August 2026
LIPSTIK MERAH MANOHARA, Dekatkan Layanan Pasien Kronis hingga ke Rumah (Foto: LIPSTIK MERAH MANOHARA menjadi inovasi Puskesmas Deket untuk mendekatkan pelayanan kepada pasien penyakit kronis melalui teknologi informasi, kunjungan rumah, pemeriksaan, konsultasi, edukasi, dan pengantaran obat. Foto: Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan.)
Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan menghadirkan LIPSTIK MERAH MANOHARA sebagai inovasi untuk menjaga keberlanjutan pelayanan bagi pasien penyakit kron...
Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan menghadirkan LIPSTIK MERAH MANOHARA sebagai inovasi untuk menjaga keberlanjutan pelayanan bagi pasien penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes mellitus. Program ini menyasar peserta Prolanis yang tidak dapat mengikuti kegiatan secara rutin karena faktor usia, keterbatasan fisik, akses transportasi, biaya, maupun minimnya dukungan keluarga. Kondisi tersebut dinilai berisiko menyebabkan pengobatan terputus dan penyakit menjadi tidak terkendali. Melalui inovasi ini, pelayanan kesehatan dibawa lebih dekat ke rumah pasien agar kontrol penyakit tetap berjalan.
Kebutuhan terhadap layanan tersebut terlihat dari besarnya beban penyakit kronis di wilayah Lamongan dan Puskesmas Deket. Pada 2020, jumlah penderita hipertensi di Kabupaten Lamongan tercatat sebanyak 335.813 penduduk, sedangkan estimasi diabetes mellitus mencapai 22.580 kasus. Di wilayah Puskesmas Deket pada 2021 terdapat 2.317 pasien hipertensi dan 604 pasien diabetes mellitus. Data tersebut menjadi salah satu dasar penting untuk memperkuat upaya pemantauan, pengobatan rutin, dan pencegahan komplikasi penyakit tidak menular.
Masalah lain terlihat pada tingkat kehadiran peserta Prolanis Sahara Puskesmas Deket. Pada 2019 terdapat 70 sasaran dengan rata-rata kehadiran sekitar 30 hingga 35 orang atau kurang lebih 50 persen setiap kegiatan. Pada 2021, jumlah peserta meningkat menjadi 93 orang, tetapi hanya sekitar 40 orang atau 43 persen yang aktif hadir dalam kegiatan Prolanis. Pada periode tersebut juga ditemukan lima pasien yang mengalami stroke dan luka dekubitus sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan secara langsung di puskesmas.
LIPSTIK MERAH MANOHARA menggabungkan pemanfaatan teknologi informasi dengan pelayanan kunjungan rumah. Peserta Prolanis yang tidak hadir dua kali berturut-turut atau mengalami keterbatasan fisik dapat menyampaikan keluhan dan kondisi melalui Google Form yang disiapkan oleh tim program. Informasi tersebut menjadi dasar bagi petugas kesehatan dan kader PTM untuk merencanakan kunjungan rumah. Dalam kunjungan itu, pasien memperoleh pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan laboratorium sederhana, konsultasi dokter, edukasi kesehatan, serta obat agar terapi tidak terputus.
Pengantaran obat menjadi bagian penting dalam rangkaian layanan LIPSTIK MERAH MANOHARA dan dilaksanakan pada hari yang telah ditentukan, yakni setiap Rabu. Kehadiran petugas ke rumah membantu pasien yang terkendala mobilitas untuk tetap memperoleh obat tepat waktu tanpa harus datang langsung ke puskesmas. Pendekatan ini sekaligus memberikan ruang bagi tenaga kesehatan untuk memantau kondisi pasien secara lebih dekat dan memastikan regimen pengobatan tetap dijalankan. Dengan pelayanan tersebut, risiko komplikasi akibat hipertensi atau diabetes yang tidak terkontrol diharapkan dapat ditekan.
Inovasi ini mulai diuji coba pada awal 2022 dan mendapat apresiasi dari peserta Prolanis karena membantu mendekatkan akses pelayanan. Penerapannya kemudian dilakukan secara lebih maksimal mulai April 2022 dengan tujuan meningkatkan kehadiran serta memperbanyak pasien penyakit kronis yang kondisinya terkendali. Sebelum pelaksanaan, Puskesmas Deket melakukan advokasi dengan kecamatan, Koramil, Polsek, dan pemerintah desa untuk memperoleh dukungan sumber daya, tenaga, serta kemudahan transportasi. Penguatan program juga melibatkan bidan desa, kader PTM, serta kemitraan dengan pihak swasta dan perguruan tinggi.
Pelaksanaan LIPSTIK MERAH MANOHARA tidak hanya berorientasi pada pemberian obat, tetapi juga pada kesinambungan pengelolaan penyakit kronis. Pasien memperoleh layanan yang lebih fleksibel, sementara petugas memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatan secara langsung di lingkungan tempat tinggal pasien. Pedoman teknis mencatat mekanisme pelayanan inovasi dapat menghasilkan proses dalam waktu satu hari, sedangkan proses penciptaannya dirancang berlangsung sekitar satu hingga tiga bulan melalui identifikasi masalah, perancangan, uji coba, peluncuran, serta evaluasi. Model ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai pelayanan yang responsif bagi pasien dengan hambatan akses dan keterbatasan fisik.
Keberadaan LIPSTIK MERAH MANOHARA juga masih tercantum sebagai salah satu inovasi Puskesmas Deket pada laman resmi Pemerintah Kabupaten Lamongan. Pendekatan yang menggabungkan teknologi informasi, kunjungan rumah, pengawasan kondisi pasien, dan pengantaran obat menunjukkan upaya puskesmas menyesuaikan layanan dengan kebutuhan masyarakat. Bagi pasien kronis, kesinambungan pengobatan menjadi kunci untuk menjaga kondisi tetap terkendali dan mencegah komplikasi yang lebih berat. LIPSTIK MERAH MANOHARA pada akhirnya menempatkan pelayanan kesehatan lebih dekat dengan pasien tanpa menghilangkan unsur pemantauan dan pendampingan tenaga kesehatan.
Sumber bahan: Petunjuk Teknis Pelaksanaan Inovasi Daerah LIPSTIK MERAH MANOHARA, Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan, 2023; serta laman resmi Puskesmas Deket Kabupaten Lamongan.
TAGS:
#inovasi daerah