POPULIS WARTA

Suara Masyarakat, Inspirasi Perubahan

Edisi Digital Regional
inovasi daerah

GELIS Dorong Setiap Siswa Menulis Satu Cerita

Oleh Administrator 15 August 2026
GELIS Dorong Setiap Siswa Menulis Satu Cerita

GELIS Dorong Setiap Siswa Menulis Satu Cerita (Foto: Guru dan peserta didik SMP Negeri 4 Pasemah Air Keruh mengikuti kegiatan literasi di lingkungan sekolah. Melalui GELIS, setiap siswa didorong membaca, menyusun cerita, saling meninjau tulisan, dan menghasilkan karya yang dapat dibukukan. Foto: Dokumentasi Program GELIS)

Setiap anak adalah pencerita. Ketika satu siswa menghasilkan satu cerita, sekolah sedang memberi ruang agar suara dan gagasan mereka dihargai.

EMPAT LAWANG — SMP Negeri 4 Pasemah Air Keruh menghadirkan GELIS untuk menumbuhkan budaya membaca sekaligus menulis di lingkungan sekolah. Melalui target Satu Siswa Satu Cerita, setiap peserta didik diarahkan menghasilkan karya yang dapat diterbitkan sebagai antologi atau portofolio.

Kemampuan literasi tidak berhenti pada keterampilan membaca. Siswa juga perlu memahami, menganalisis, menyimpulkan, dan mengubah informasi menjadi gagasan yang dapat disampaikan secara runtut. Di SMP Negeri 4 Pasemah Air Keruh, penurunan minat mengunjungi perpustakaan dan lemahnya daya tahan membaca teks panjang menjadi perhatian sekolah.

Perubahan kebiasaan akibat gawai dan media sosial turut memengaruhi cara siswa mengolah informasi. Konten visual yang singkat membuat sebagian anak terbiasa memperoleh informasi secara cepat, tetapi belum selalu memeriksa kebenarannya. Banyak siswa juga memiliki ide, namun kesulitan menuangkannya menjadi tulisan yang sistematis.

Membaca 15 Menit, Menulis Satu Cerita

GELIS merupakan Gerakan Literasi dan Menulis dengan jargon Satu Siswa Satu Cerita. Program dimulai melalui Waktu Inspirasi, yakni membaca buku pilihan bebas selama 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar. Bacaan tersebut menjadi sumber kosakata, gagasan, dan contoh alur yang dapat digunakan siswa ketika mulai menulis.

Satu hari dalam setiap minggu dialokasikan sebagai Hari Penyusunan. Pada waktu tersebut, siswa mencicil cerita dalam bentuk cerita pendek, fabel, atau pengalaman pribadi. Proses dibuat bertahap agar menulis tidak terasa sebagai tugas berat. Setiap anak diberi ruang untuk memilih tema dan gaya bercerita yang paling dekat dengan dirinya.

Draf yang telah dibuat kemudian masuk ke tahap review teman sejawat. Siswa saling membaca tulisan teman sebangku dan memberikan komentar positif. Kegiatan ini melatih kemampuan membaca kritis sekaligus membangun budaya saling menghargai. Masukan yang diberikan digunakan untuk memperjelas alur, tokoh, dan pesan cerita.

Guru pembimbing memberikan sentuhan akhir melalui masukan kebahasaan dan penyempurnaan isi. Peran guru bukan mengambil alih cerita siswa, melainkan membantu agar gagasan mereka tersusun lebih runtut. Semua karya kemudian dikumpulkan untuk dipublikasikan dalam bentuk buku antologi, buku cetak, e-book, atau portofolio digital.

Dari Konsumen Informasi Menjadi Produsen Karya

Kebaruan GELIS terletak pada penggabungan kebiasaan membaca dengan literasi produktif. Program tidak berhenti pada aktivitas membaca 15 menit, tetapi meminta setiap siswa menghasilkan satu karya nyata. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menerima informasi, melainkan belajar mengolah dan memproduksi gagasan.

Menulis cerita membantu siswa memperkaya kosakata, memperbaiki tata bahasa, dan melatih sistematika berpikir. Mereka belajar menyelesaikan sebuah karya dari awal hingga akhir, sehingga ketekunan dan tanggung jawab ikut berkembang. Apresiasi terhadap semua tulisan juga memperkuat kepercayaan diri bahwa pengalaman dan suara setiap anak memiliki nilai.

Cerita pribadi dapat menjadi ruang ekspresi bagi siswa yang kesulitan menyampaikan emosi secara lisan. Bagi guru, tulisan menjadi alat untuk mengenali karakter, minat, dan keresahan peserta didik secara lebih dekat. Bagi sekolah, kumpulan cerita menjadi kekayaan intelektual lokal sekaligus menambah koleksi perpustakaan dengan karya autentik siswa.

Lima Tahap dari Inspirasi hingga Publikasi

Pelaksanaan GELIS disusun melalui lima tahap yang sederhana dan konsisten. Waktu Inspirasi menjadi tahap membaca, Hari Penyusunan digunakan untuk mencicil cerita, dan review teman sejawat memberikan umpan balik awal. Guru kemudian melakukan sentuhan akhir sebelum seluruh karya masuk ke tahap pengumpulan dan publikasi.

Target Satu Siswa Satu Cerita memastikan setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama. Sekolah tidak hanya menampilkan karya siswa yang dianggap paling unggul, tetapi memberikan apresiasi kepada semua penulis muda. Pendekatan inklusif tersebut menggeser literasi dari beban kurikulum menjadi kebanggaan terhadap karya sendiri.

GELIS diharapkan memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan rekam jejak literasi peserta didik. Karya yang diterbitkan dapat menjadi portofolio bagi siswa sekaligus bukti nyata perkembangan program sekolah. Melalui satu cerita dari setiap anak, SMP Negeri 4 Pasemah Air Keruh membangun budaya literasi yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Sumber: GELIS (Gerakan Literasi dan Menulis: Satu Siswa Satu Cerita) Tahun 2025, SMP Negeri 4 Pasemah Air Keruh, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang.

TAGS: #inovasi daerah