GELIS Bangun Budaya Baca di Sekolah, Literasi Dimulai dari Kebiasaan Harian
GELIS Bangun Budaya Baca di Sekolah, Literasi Dimulai dari Kebiasaan Harian (Foto: Siswa SDN 77 Kota Bima mengikuti kegiatan Gerakan Literasi Sekolah dengan membaca bersama di lingkungan sekolah. Foto digunakan sebagai pendukung konteks kegiatan literasi dan bukan dokumentasi GELIS Kabupaten Kepulauan Yapen. Sumber: SDN 77 Kota Bima.)
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen mengembangkan GELIS atau Gerakan Literasi Sekolah untuk memperkuat kemampuan membaca dan menulis peserta didik sejak kelas awal. Data tahun 2023 menunjukkan lebih dari 37 persen siswa SD kelas 1–3 belum mampu membaca lancar, terutama di distrik luar kota.
YAPEN — Kemampuan membaca pada kelas awal menjadi fondasi bagi
keberhasilan siswa mempelajari berbagai mata pelajaran pada jenjang berikutnya.
Di Kabupaten Kepulauan Yapen, masih terdapat kesenjangan kemampuan literasi
antara sekolah di pusat wilayah dan distrik yang lebih sulit dijangkau.
Keterbatasan bahan bacaan, belum meratanya kapasitas guru, serta rendahnya
keterlibatan keluarga membuat pembiasaan membaca belum berjalan seragam. GELIS
hadir untuk menyatukan berbagai upaya tersebut dalam gerakan yang lebih
terstruktur dan berkelanjutan.
Salah satu perhatian utama adalah lebih dari 37 persen siswa SD kelas awal pada 2023 yang belum mampu membaca lancar dan masih berada pada tahap mengeja atau mengenali huruf. Kondisi tersebut terutama ditemukan di distrik luar kota seperti Yapen Barat, Yawakukat, dan Angkaisera. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis membaca, tetapi juga akses terhadap bahan bacaan yang menarik dan sesuai usia. Karena itu, penguatan literasi ditempatkan sebagai kebutuhan pemerataan mutu pendidikan di wilayah kepulauan.
“Literasi dibangun melalui kebiasaan membaca yang konsisten, ruang belajar yang mendukung, dan keterlibatan seluruh ekosistem sekolah.”
Membaca Menjadi Rutinitas Sekolah
GELIS menempatkan pojok baca kelas sebagai ruang yang dekat dengan
aktivitas siswa sehari-hari. Koleksi bacaan disesuaikan dengan tingkat usia dan
dibuat mudah dijangkau agar siswa dapat membaca di luar buku pelajaran. Setiap
kelas juga diarahkan menjalankan kegiatan 15 menit membaca sebelum belajar
sebagai rutinitas harian. Pembiasaan ini diharapkan membangun hubungan yang
positif antara anak dan buku sejak awal.
Kegiatan literasi kemudian diperluas melalui Pekan Literasi yang dapat
berisi mendongeng, membaca nyaring, resensi buku, menulis puisi, mengarang,
pidato, hingga bazar buku. Ragam kegiatan tersebut memberi ruang bagi siswa
untuk mengekspresikan pemahaman melalui tulisan maupun lisan. Guru memperoleh
pelatihan agar mampu mengintegrasikan membaca, menulis, dan berpikir kritis ke
dalam pembelajaran lintas mata pelajaran. Dengan cara ini, literasi tidak
berdiri sebagai kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari proses belajar.
Peran keluarga juga diperkuat melalui program Orang Tua Membacakan
Buku. Orang tua didorong untuk membacakan cerita di rumah atau terlibat dalam
kegiatan kelas sehingga pembiasaan literasi tidak berhenti ketika siswa
meninggalkan sekolah. Keterlibatan keluarga membantu menciptakan kesinambungan
antara lingkungan belajar di sekolah dan di rumah. Kolaborasi tersebut menjadi
penting karena budaya baca membutuhkan dukungan yang konsisten dari orang
dewasa di sekitar anak.
GELIS turut memanfaatkan sarana digital dan perpustakaan daring untuk
memperluas pilihan bahan bacaan. Konten digital interaktif dapat menjadi
pelengkap koleksi fisik dan membantu siswa mengenal bentuk literasi yang
berkembang di era teknologi. Di saat yang sama, pendekatan digital tetap
disesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur di setiap wilayah. Kombinasi
bahan fisik dan digital membuat strategi literasi lebih adaptif terhadap
kondisi Kepulauan Yapen.
Menjangkau Sekolah hingga Wilayah
Terpencil
Untuk sekolah yang berada jauh dari pusat layanan, pustaka keliling
menjadi bagian penting dalam distribusi bahan bacaan. Layanan tersebut
diarahkan menjangkau satuan pendidikan yang koleksi bukunya masih terbatas
secara bergilir dan berkesinambungan. Sekolah juga didorong membangun
perpustakaan yang representatif, nyaman, dan sesuai kebutuhan siswa. Penguatan
sarana ini membantu mengurangi kesenjangan akses literasi antarwilayah.
Manfaat GELIS tidak hanya diukur dari meningkatnya minat membaca.
Pembiasaan yang teratur diharapkan membantu lebih banyak siswa kelas awal
beralih dari tahap mengeja menuju membaca lancar dan memahami isi bacaan. Guru
juga memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang
mendorong kemampuan berpikir kritis. Dalam jangka panjang, kemampuan tersebut
menjadi modal bagi siswa untuk menguasai pengetahuan dan beradaptasi dengan
perkembangan zaman.
Pelaksanaan gerakan melibatkan kepala sekolah, guru, orang tua,
komunitas, dan pemerintah daerah dalam satu ekosistem. Keterlibatan banyak
pihak membuat kegiatan literasi tidak bergantung pada satu guru atau satu
program tertentu. Monitoring terhadap partisipasi siswa, guru, dan orang tua
diperlukan untuk melihat kegiatan yang berjalan baik serta bagian yang masih
perlu diperkuat. Hasil pemantauan kemudian menjadi dasar penyempurnaan program
secara berkelanjutan.
GELIS diarahkan menjadi transformasi budaya belajar yang hidup,
menyenangkan, dan merata hingga wilayah kepulauan. Ketika membaca hadir sebagai
kebiasaan harian, siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperluas
kosakata, memahami informasi, dan mengekspresikan gagasan. Pemerataan akses
buku dan penguatan kapasitas guru menjadi kunci agar setiap sekolah memperoleh
peluang yang sama. Gerakan ini pada akhirnya diharapkan membentuk generasi
Kepulauan Yapen yang literat, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.
Informasi Sumber & Rilis Berita
Atribusi: : Proposal Inovasi GELIS (Gerakan Literasi Sekolah), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Yapen.