POPULIS WARTA

Suara Masyarakat, Inspirasi Perubahan

Edisi Digital Regional
inovasi daerah

BANGKA Ajak Anak Mengenal Angka dan Warna lewat Permainan Bunga Matahari

Oleh Administrator 15 August 2026
BANGKA Ajak Anak Mengenal Angka dan Warna lewat Permainan Bunga Matahari

BANGKA Ajak Anak Mengenal Angka dan Warna lewat Permainan Bunga Matahari (Foto: Dua anak menunjukkan hasil karya mewarnai dalam kegiatan pembelajaran kreatif di lingkungan sekolah. Aktivitas visual dan penggunaan warna menjadi bagian penting dalam pembelajaran anak usia dini. Pendekatan serupa diterapkan dalam BANGKA melalui media bunga matahari berwarna untuk mengenalkan angka dan pola. Foto: Dokumentasi kegiatan pendidikan anak usia dini.)

“Anak belajar angka bukan hanya dengan melihat, tetapi dengan memegang, mencocokkan, dan menyusun bagian bunga secara langsung.”

EMPAT LAWANG — TKIT Birrul Walidain menghadirkan BANGKA atau Bunga Matahari Angka sebagai inovasi pembelajaran matematika dasar untuk anak usia dini. Media yang digagas Karunia, S.Pd., itu dirancang menyerupai bunga matahari dengan bagian tengah dan kelopak yang memuat angka atau soal sederhana. Anak dapat memegang, memasang, melepas, dan mencocokkan setiap bagian sambil mengikuti arahan guru. Cara tersebut mengubah pengenalan bilangan dari kegiatan menghafal menjadi pengalaman bermain yang konkret dan menyenangkan.

Gagasan BANGKA berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran matematika yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Konsep angka, urutan bilangan, warna, dan operasi hitung akan lebih mudah dipahami apabila disajikan melalui benda yang dapat disentuh secara langsung. Metode yang terlalu abstrak atau hanya mengandalkan lembar kerja berisiko membuat anak cepat kehilangan perhatian. Karena itu, guru memilih alat permainan edukatif yang memadukan bentuk, warna, gerak, dan aktivitas pemecahan masalah.

Bunga matahari dipilih karena bentuknya mudah dikenali dan memiliki susunan kelopak yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar. Bagian tengah dapat digunakan untuk menampilkan angka utama atau simbol operasi, sedangkan kelopak berisi pasangan angka maupun jawaban. Anak kemudian mencari dan menempatkan kelopak pada posisi yang sesuai. Aktivitas tersebut membantu mereka memahami hubungan antara lambang bilangan, jumlah, urutan, dan pola.

Kelopak Bunga Menjadi Media Berhitung

Desain BANGKA terdiri atas lingkaran tengah dan sejumlah kelopak yang mengelilinginya. Lingkaran tengah digunakan sebagai titik acuan untuk menempatkan angka utama, soal, atau simbol penjumlahan dan pengurangan. Setiap kelopak berisi angka atau jawaban yang harus dicocokkan oleh anak. Susunan tersebut membuat konsep matematika tampil dalam bentuk yang sederhana dan mudah diamati.

Kelopak dapat dibuat dalam bentuk lepas-pasang menggunakan perekat, velcro, atau magnet. Anak mengambil kelopak, mengamati isinya, lalu menempatkannya pada bagian bunga yang sesuai. Proses ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba dan memperbaiki jawabannya sendiri. Guru dapat memberikan bantuan bertahap apabila anak masih kesulitan menemukan pasangan yang benar.

Materi pada kelopak dapat diubah sesuai tujuan pembelajaran yang sedang dikembangkan. Pada tahap awal, guru dapat memfokuskan kegiatan pada angka 1–10 dan pengenalan warna. Setelah anak lebih siap, isi media dapat dikembangkan untuk urutan bilangan, penjumlahan, atau pengurangan sederhana. Fleksibilitas tersebut membuat BANGKA dapat digunakan berulang dalam berbagai kegiatan.

Belajar Sambil Menggerakkan Tangan

BANGKA tidak hanya menstimulasi kemampuan kognitif, tetapi juga melatih motorik halus anak. Kegiatan mengambil, memasang, memindahkan, dan menyusun kelopak membutuhkan koordinasi mata serta tangan. Gerakan sederhana tersebut membantu memperkuat kontrol jari yang diperlukan untuk menulis dan melakukan aktivitas mandiri. Pembelajaran matematika akhirnya terhubung dengan perkembangan fisik-motorik secara bersamaan.

Warna cerah pada kelopak digunakan untuk menarik perhatian sekaligus melatih kemampuan klasifikasi. Anak dapat diminta mengelompokkan kelopak berdasarkan warna sebelum mencocokkannya dengan angka. Guru juga dapat menambahkan permainan mengurutkan warna atau mencari pola yang berulang. Kegiatan ini memperluas pengalaman belajar tanpa mengubah bentuk dasar medianya.

Permainan dilakukan secara bergiliran agar setiap anak memperoleh kesempatan memegang dan menggunakan media. Guru mengatur posisi duduk serta memberikan contoh penggunaan sebelum aktivitas dimulai. Pengkondisian kelas membantu anak lebih fokus dan memahami aturan permainan. Suasana yang terarah tetap dipertahankan tanpa menghilangkan unsur kegembiraan dalam bermain.

Media Sederhana dari Bahan yang Mudah Ditemukan

BANGKA dibuat dari bahan sederhana seperti kardus, karton warna, kertas origami, lem, gunting, dan spidol. Pemilihan bahan tersebut membuat media mudah dibuat oleh guru tanpa memerlukan biaya besar. Warna kuning dapat digunakan pada kelopak, sedangkan bagian tengah diberi warna kontras agar angka terlihat jelas. Ukuran media disesuaikan agar dapat digunakan secara individual maupun ditampilkan di depan kelas.

Kesederhanaan bahan tidak mengurangi fungsi media sebagai alat pembelajaran yang interaktif. Guru dapat mengganti angka, simbol, dan pertanyaan sesuai kemampuan anak. Bagian yang rusak juga mudah diperbaiki atau dibuat ulang tanpa mengganti seluruh media. Karakter ini menjadikan inovasi lebih mudah dipelihara serta direplikasi oleh sekolah lain.

Guru Menjadi Fasilitator Permainan

Dalam pelaksanaan BANGKA, guru berperan memperkenalkan media dan menjelaskan aturan permainan secara langsung. Setiap bagian bunga ditunjukkan agar anak memahami fungsi angka, warna, dan simbol yang digunakan. Guru kemudian memberikan contoh sebelum anak mencoba secara mandiri atau bergiliran. Pendampingan tersebut membuat proses bermain tetap aman, tertib, dan sesuai tujuan pembelajaran.

Kesalahan tidak langsung dianggap sebagai kegagalan, tetapi digunakan sebagai bagian dari proses menemukan jawaban. Guru memberi petunjuk sederhana agar anak dapat mencoba kembali dengan lebih percaya diri. Pujian diberikan pada usaha, ketekunan, dan keberanian untuk berpartisipasi. Pendekatan positif tersebut menjaga minat belajar dan rasa ingin tahu anak.

Disiapkan Bertahap Sejak September 2025

Pedoman teknis mencatat tahap persiapan BANGKA berlangsung sejak 22 September hingga 27 Oktober 2025. Pada masa tersebut, tim membahas waktu, lokasi, alur pembelajaran, dan kebutuhan teknis media. Guru juga menyiapkan bahan serta menentukan bentuk permainan yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Persiapan bertahap dilakukan agar media dapat digunakan secara aman dan mudah dipahami.

Tahap pelaksanaan dijadwalkan mulai 10 November 2025 hingga 26 Januari 2026 di TKIT Birrul Walidain Gunung Meraksa Lama, Kecamatan Pendopo. Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 dengan pengondisian tempat duduk dan penjelasan media. Anak kemudian mengikuti sesi bermain secara bergiliran setelah melihat contoh dari guru. Tahapan tersebut dirancang untuk membangun fokus sebelum peserta didik melakukan aktivitas mandiri.

Proses penciptaan dapat berjalan relatif cepat karena media tidak membutuhkan teknologi rumit. Ide dasar dapat langsung diterapkan menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekolah. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan terhadap antusiasme, pemahaman angka, kemampuan mencocokkan, dan koordinasi gerak anak. Hasil pelaksanaan menjadi bahan untuk mengembangkan variasi permainan berikutnya.

Membangun Fondasi Matematika Anak Usia Dini

Bagi anak, BANGKA membantu mengenalkan bentuk angka dan urutan bilangan melalui pengalaman yang menyenangkan. Media tersebut juga memperkuat kemampuan mengenali warna, pola, jumlah, dan operasi hitung sederhana. Kegiatan bermain membuat anak lebih aktif serta tidak mudah bosan ketika belajar matematika. Fondasi ini penting untuk mempersiapkan mereka mengikuti pembelajaran pada jenjang berikutnya.

Bagi guru, inovasi ini mendorong kreativitas dalam merancang alat permainan edukatif secara mandiri. Bagi sekolah, penggunaan media berwarna menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan menarik. Bagi orang tua, BANGKA memberikan contoh permainan sederhana yang dapat dikembangkan di rumah. Manfaat tersebut menunjukkan bahwa satu media dapat mendukung berbagai unsur dalam ekosistem pendidikan anak.

Melalui BANGKA, TKIT Birrul Walidain menunjukkan bahwa pengenalan matematika dapat dilakukan melalui permainan yang dekat dengan dunia anak. Bunga matahari menjadi jembatan untuk memahami angka, warna, pola, serta hubungan sederhana antarbenda. Keberlanjutan inovasi bergantung pada kreativitas guru dalam memperbarui isi dan tingkat tantangan. Dengan pengembangan yang konsisten, BANGKA berpotensi menjadi inspirasi bagi pembelajaran anak usia dini di sekolah lain.

TAGS: #inovasi daerah