POPULIS WARTA

Suara Masyarakat, Inspirasi Perubahan

Edisi Digital Regional
inovasi daerah

AYUK TING TING Perkuat Deteksi Dini Stunting melalui Pengukuran Rutin Balita

Oleh Administrator 15 August 2026
AYUK TING TING Perkuat Deteksi Dini Stunting melalui Pengukuran Rutin Balita

AYUK TING TING Perkuat Deteksi Dini Stunting melalui Pengukuran Rutin Balita (Foto: Petugas mengukur tinggi badan seorang anak sebagai bagian dari pemantauan pertumbuhan dan pencegahan stunting. Pengukuran secara rutin membantu tenaga kesehatan membandingkan pertumbuhan anak dengan standar yang sesuai usianya. AYUK TING TING mendorong kegiatan tersebut dilakukan secara konsisten melalui pelayanan posyandu di wilayah Puskesmas Padang Tepong. Foto: ANTARA.)

UPTD Puskesmas Padang Tepong mengembangkan AYUK TING TING untuk memperluas deteksi dini stunting di Kecamatan Ulu Musi. Program ini menempatkan penguk...


UPTD Puskesmas Padang Tepong mengembangkan AYUK TING TING untuk memperluas deteksi dini stunting di Kecamatan Ulu Musi. Program ini menempatkan pengukuran tinggi badan balita sebagai kegiatan rutin pada setiap pelayanan posyandu. Edukasi gizi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga balita dilaksanakan bersama aksi bergizi serta rembuk stunting lintas sektor. Pendekatan tersebut diarahkan agar risiko gangguan pertumbuhan dapat ditemukan lebih cepat dan segera ditindaklanjuti.


EMPAT LAWANG — UPTD Puskesmas Padang Tepong menghadirkan inovasi AYUK TING TING atau Ayo Ukur Tinggi Badan untuk Cegah Stunting. Program ini berfokus pada pemantauan rutin tinggi badan balita sebagai langkah deteksi dini gangguan pertumbuhan. Pengukuran dilakukan melalui kegiatan posyandu yang dilaksanakan setiap bulan di wilayah kerja puskesmas. Hasil pemantauan menjadi dasar bagi petugas untuk memberikan edukasi dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak berada di bawah standar pertumbuhan. Kondisi tersebut dapat bermula sejak masa kehamilan dan sering baru terlihat jelas ketika anak memasuki usia dua tahun. Dokumen inovasi menyebut penyebabnya berkaitan dengan kekurangan gizi jangka panjang, infeksi berulang, pola asuh, sanitasi, dan akses air bersih. Faktor kesehatan ibu, kehamilan remaja, jarak kelahiran yang pendek, serta kondisi sosial ekonomi juga turut memengaruhi.

Pencegahan stunting membutuhkan perhatian sejak masa seribu hari pertama kehidupan. Keterlambatan mengetahui hambatan pertumbuhan dapat membuat penanganan menjadi lebih sulit setelah anak melewati usia dua tahun. Karena itu, pengukuran tinggi badan secara berkala diposisikan sebagai langkah sederhana yang memiliki arti penting. AYUK TING TING berupaya menjadikan pemantauan pertumbuhan sebagai kebiasaan bersama antara tenaga kesehatan dan keluarga.


“Pengukuran tinggi badan yang dilakukan rutin menjadi pintu awal untuk mengenali risiko stunting sebelum dampaknya semakin luas.”

Pengukuran Rutin di Posyandu

Posyandu menjadi titik utama pelaksanaan AYUK TING TING karena layanan tersebut paling dekat dengan keluarga balita. Setiap anak yang hadir diukur tinggi badannya secara rutin dan hasilnya dicatat oleh petugas serta kader. Data tersebut digunakan untuk melihat kecenderungan pertumbuhan dari waktu ke waktu, bukan hanya berdasarkan satu kali pengukuran. Apabila ditemukan hasil yang memerlukan perhatian, keluarga dapat segera memperoleh penjelasan dan pendampingan.

Kegiatan pengukuran juga membantu puskesmas mengetahui gambaran stunting di wilayah kerjanya secara lebih terarah. Data dari setiap posyandu dapat digunakan untuk memetakan desa atau kelompok sasaran yang membutuhkan intervensi lebih intensif. Pemetaan tersebut penting agar sumber daya kesehatan tidak diberikan secara umum tanpa mempertimbangkan tingkat kebutuhan. Dengan dasar data yang lebih baik, program pencegahan dapat disusun secara tepat sasaran.

Pelayanan ini tidak berhenti pada pencatatan angka tinggi badan anak. Petugas memberikan penjelasan kepada orang tua mengenai hasil pemantauan dan faktor yang memengaruhi pertumbuhan. Keluarga diajak memperhatikan pola makan, kesehatan anak, kebersihan lingkungan, dan keteraturan mengikuti posyandu. Pendekatan tersebut menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan stunting.

Edukasi bagi Ibu dan Keluarga

AYUK TING TING menyasar ibu yang memiliki balita, ibu hamil, dan ibu menyusui melalui kegiatan edukasi kesehatan. Materi disampaikan pada posyandu, kelas ibu hamil, serta kelas ibu balita yang diselenggarakan oleh puskesmas. Edukasi mencakup pentingnya ASI eksklusif, pemenuhan protein, dan pemberian makanan yang sesuai kebutuhan anak. Ibu hamil juga diarahkan menjaga asupan gizi agar pertumbuhan janin berlangsung optimal.

Penyampaian informasi dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Petugas tidak hanya menjelaskan jenis makanan bergizi, tetapi juga mendorong keluarga memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Kebiasaan makan yang seimbang perlu dibangun secara konsisten sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita. Dengan cara itu, pencegahan stunting tidak bergantung pada intervensi sesaat.

Edukasi juga digunakan untuk meluruskan pemahaman bahwa stunting hanya berkaitan dengan tubuh anak yang pendek. Gangguan pertumbuhan dapat berkaitan dengan perkembangan fisik dan kualitas kesehatan anak dalam jangka panjang. Keluarga perlu memahami bahwa pemantauan rutin merupakan bentuk perlindungan terhadap masa depan anak. Kesadaran tersebut diharapkan meningkatkan kehadiran balita dalam kegiatan posyandu setiap bulan.

Aksi Bergizi Menjangkau Sekolah

Program AYUK TING TING turut memasukkan kegiatan aksi bergizi yang dilaksanakan di sekolah dasar. Kegiatan ini bertujuan membentuk kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi seimbang sejak usia sekolah. Siswa memperoleh penyuluhan mengenai pilihan makanan, aktivitas fisik, dan pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Pendekatan tersebut memperluas pencegahan stunting dari balita menuju pembentukan generasi sehat secara berkelanjutan.

Aksi bergizi juga mencakup penguatan kesadaran mengenai tablet tambah darah sesuai sasaran program kesehatan. Materi tersebut penting sebagai bagian dari persiapan kesehatan remaja dan calon ibu pada masa mendatang. Sekolah menjadi ruang yang strategis karena kebiasaan hidup sehat dapat dibentuk melalui kegiatan bersama dan pembelajaran berulang. Kolaborasi dengan tenaga pendidik membantu pesan kesehatan menjangkau anak secara lebih konsisten.

Pelaksanaan kegiatan di sekolah melengkapi intervensi yang telah dilakukan melalui posyandu dan kelas ibu. Setiap kelompok sasaran memperoleh pesan yang disesuaikan dengan usia serta kebutuhan kesehatannya. Puskesmas dapat menghubungkan edukasi gizi dari masa kehamilan, balita, hingga usia sekolah dalam satu rangkaian. Keterhubungan tersebut memperkuat upaya pencegahan stunting dalam jangka panjang.

Rembuk Stunting Libatkan Lintas Sektor

AYUK TING TING tidak hanya dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan unsur lintas sektor melalui rembuk stunting. Kegiatan tersebut menghadirkan pihak kecamatan, Tim Penggerak PKK, UPTD KB, pemerintah desa, serta pemangku kepentingan lainnya. Forum digunakan untuk membahas kondisi lapangan, pembagian peran, dan dukungan yang dibutuhkan untuk menjangkau keluarga sasaran. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan karena penyebab stunting tidak hanya berada pada sektor kesehatan.

Pemerintah desa dapat membantu memastikan keluarga balita mengetahui jadwal pelayanan dan mengikuti kegiatan posyandu. PKK berperan memperkuat edukasi keluarga, sedangkan unsur lain dapat mendukung kebutuhan sanitasi, pangan, dan perlindungan sosial. Koordinasi lintas sektor membantu mengurangi program yang berjalan sendiri-sendiri tanpa pertukaran data dan informasi. Dengan kerja bersama, tindak lanjut terhadap anak berisiko dapat dilakukan lebih cepat.

Rembuk stunting juga menjadi ruang evaluasi terhadap kegiatan yang telah berjalan. Petugas dapat menyampaikan temuan dari pengukuran balita serta kendala yang dialami di setiap desa. Masukan dari masyarakat dan pemerintah setempat digunakan untuk memperbaiki metode sosialisasi maupun jangkauan layanan. Forum tersebut menjaga agar inovasi terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan wilayah.

Dari Uji Coba menuju Implementasi

Dokumen inovasi mencatat pengembangan AYUK TING TING dimulai pada 20 Agustus 2024. Uji coba program kemudian dijadwalkan pada 20 Mei 2026 dengan melibatkan sasaran dan pemangku kepentingan di wilayah puskesmas. Implementasi ditetapkan mulai 20 Juni 2026 dan dilanjutkan melalui kegiatan posyandu bulanan. Tahapan tersebut menunjukkan program dibangun melalui proses persiapan sebelum diterapkan secara lebih luas.

Rembuk stunting dilaksanakan pada Mei 2026 sebagai bagian dari konsolidasi lintas sektor. Aksi bergizi direncanakan berlangsung pada Juni 2026, sedangkan pengukuran di posyandu berjalan setiap bulan. Monitoring dan evaluasi dilakukan selama pelaksanaan posyandu untuk melihat keterjangkauan serta hasil kegiatan. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki pelaksanaan pada periode berikutnya.

Tujuan utama AYUK TING TING adalah mencegah dan menurunkan stunting di wilayah kerja Puskesmas Padang Tepong. Manfaat langsungnya adalah tersedianya informasi mengenai kondisi pertumbuhan balita sebagai dasar penentuan intervensi. Program ini juga membangun kesadaran bahwa mengukur tinggi badan sama pentingnya dengan menimbang berat badan. Kebiasaan pemantauan yang teratur diharapkan membuat keluarga lebih tanggap terhadap perubahan pertumbuhan anak.

Melalui AYUK TING TING, Puskesmas Padang Tepong menjadikan pengukuran sederhana sebagai gerakan pencegahan yang melibatkan banyak pihak. Posyandu menyediakan data pertumbuhan, keluarga menjalankan pola asuh dan pemenuhan gizi, sedangkan pemerintah desa membantu memperluas jangkauan. Sekolah dan lintas sektor melengkapi intervensi agar pesan kesehatan tidak berhenti pada satu kelompok usia. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat langkah Kabupaten Empat Lawang dalam membangun generasi yang lebih sehat.

Sumber: AYUK TING TING Tahun 2025, Puskesmas Padang Tepong.

TAGS: #inovasi daerah